SMA Negeri 1 Ceper Bertekad Wujudkan Generasi Melek IT

Arus globalisasi saat ini tidak terbendung lagi, ditandai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih sudah merambah seluruh dunia, termasuk Indonesia. Akses internet bisa dinikmati mulai dari daerah pegunungan sampai desa terpencil.

Kita saat ini telah memasuki zaman baru, yaitu era evolusi baru yang mengedepankan kecepatan, berpacu dengan kecepatan yang luar biasa, yang ditandai dengan cyber physical system (sistim fisik siber), menyatunya fisik digital dan biologis secara online, terkoneksinya seluruh media online/ofline baik lokal dan global secara terus menerus melalui internet. Akses internet telah mampu menghubungkan jarak ribuan kilometer hanya dalam hitungan detik.

Dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0, kita menghadapi fenomena disruptive innovation(inovasi disrubtif) di mana pola digital economy (ekonomi digital) artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data (data besar), robotic (robot) telah mengambil peranan vital dalam kehidupan peradaban modern ini.

Tantangan di era revolusi Industri 4.0 ini ditandai dengan semakin kompleksnya problem yang akan dihadapi penduduk dunia dan semakin mengecilnya peluang kerja bagi manusia karena tergantikan oleh peran dominasi tehnologi dari kombinasi globalisasi dengan teknologi informasi.

Resiko dan problem krusial yang muncul adalah, problem tenaga kerja, karena tidak ada lagi aktifitas manual, sehingga manusia pada akhirnya hanya dianggap sebagai bagian dari sistem. Ribuan tugas dan pekerjaan manusia akan digantikan robot, mesin, kecerdasan buatan dan perangkat komputasi.

Menanggapi fenomena pada saat ini, dimana tantangan generasi millenial lebih kompleks, harus lebih cepat menangkal sejak dini pengaruh negatif antisipati dan celah-celah aktivitas yang memungkinkan bisa diisi oleh generasi millenial agar survived di era Revolusi Industri 4.0 ini.

Posisi kita saat ini yang sedang berada di era menyatunya dunia fisik, antara digital dan biologis secara daring, di mana perangkat smartphone (ponsel pintar) mampu menghitung berapa langkah kita berjalan dan kalori yang masuk dalam tubuh. Menyimpan memori/data pun, lebih praktis karena bisa dengan sistem cloud computing ( komputasi awan), tidak lagi melalui hard drive. Sistem ini sudah diaplikasikan google dengan google drive-nya.

Tidak disangka dan dibayangkan, saat ini kita berada di zaman baru di mana orang dahulu tidak mengalaminya, tetapi kita sedang berada di dalamnya. Sehingga tantangan dan resiko yang akan dihadapi lebih berat karena menyangkut bagaimana mampu berpacu dengan kecepatan dan bertahan di dalamnya.

Peran dunia pendidikan, sekolah, perguruan tinggi, tidak tertutup kemungkinan juga peran pendidikan non formal sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tugas mencetak generasi unggulan dan berdaya saing, harus mulai berbenah agar adaptif dan aplikatif akan pesatnya perkembangan tehnologi digital.

Mempertimbangkan kembali kurikulum yang akan digunakan agar relevan dengan era digital sekarang ini, yang bisa membantu siswa dan mahasiswa menghadapi tantangan digital mulai dari sistem edukasi digital, mengimplementasikan struktur organisasi yang memiliki kebijakan visioner dan antisipatif, fleksibel dan agile, dan kerangka akuntabilitas yang terbuka (tranparan). Selalu melakukan inovasi regulasi dan reformasi birokrasi, karena era digital saat ini juga menimbulkan tegangan kebijakan antara yang kovensional dengan daring. Memperluas dan memanfaatkan jaringan network. Siswa dan mahasiswa harus digitally literate (melek digital), memiliki keterampilan leadership mumpuni, critical thingking (berfikir kritis) dan memiliki pengetahuan/pemahaman basic digital yang bisa beradaptasi.

Apa kiat agar generasi millenial tetap mampu bertahan dan diperhitungkan ditengah pesatnya perkembangan tehnologi ini? Problem yang muncul semakin menyempitnya peluang kerja bagi tenaga kerja terdidik. Maka, selain aware terhadap tanda tanda zaman dan mencari celah untuk menantisipasinya, individu harus mengasah dirinya agar memiliki kecakapan menangani persoalan yang komplek. Individu yang agile (tangkas) yakni individu dengan kombinasi flesibilitas, kecakapan, ketangkasan dan kecepatan dalam mengatasi masalah. Juga, kemampuan adaptif, kreatif dan inovatif secara konsisten serta strategising (berstrategi).

Generasi milleial juga harus lebih peka dalam melihat kebutuhan pekerjaan, keterampilan apakah yang lebih dibutuhkan dan tidak bisa dilakukan oleh robot. Serta mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi dan menjadikannya sebagai kekuatan untuk mencari peluang di masa depan. Juga memiliki social skill, yakni kemampuan mengformulasikan kecakapan, seni berbicara, mengolah kata, gestur, mimik, bahasa tubuh, pola bergaul, berfikir dan berinteraksi secara dinamis.

Karena menurut majalah The Economists edisi 14 Januari 2017, menggambarkan pentingnya memiliki kecakapan sosial (social skills) dalam bekerja. Pola perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sejak tahun 1980 yang dibutuhkan adalah mereka dengan kecakapan sosial yang tinggi meskipun keterampilan matematikanya rendah. Mereka dengan keterampilan matematika yang tinggi, tetapi kecakapan sosial rendah tidak dibutuhkan.

“Persoalan yang kita hadapi sekarang ini bukan teknologinya. Suka atau tidak, perkembangan teknologi akan berjalan terus. Teknologi adalah teknologi. Jangan menyalahan teknologi kalau Anda mengalami kesulitan. Generasi sekarang lahir di era digital native, artinya lahir langsung online. Ini persoalan interaksi antara tehnologi dengan manusia. Memiliki perangkat berarti harus mengerti digital, jadi kiatnya, harus digitally literate(melek digital). Dunia Pendidikan memiliki peranan vital untuk mengedukasi generasi agar menjadi penggerak, pemain, bukan hanya sebagai user “.

“Intinya generasi milenial dituntut untuk menyadari dan menyiapkan diri dalam menghadapi era revolusi industri 4,0,” (

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *